Home Pendidikan Baca Buku Sambil Makan dan Karaokean di Perpustakaan STIHPADA

Baca Buku Sambil Makan dan Karaokean di Perpustakaan STIHPADA

0

PALEMBANG, PE – Mengunjungi perpustakaan, biasanya ada banyak sekali larangan. Mulai dari dilarang mengobrol, tak boleh makan, apalagi bernyanyi dan menonton televisi. Namun, larangan-larangan tersebut tidak berlaku di Prof Dr Abu Daud Busroh Library, yang berada di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA).

Dr H Firman Freaddy Busroh, SH, M Hum, Ketua Pembina STIHPADA

Di perpustakaan yang menyediakan ribuan buku di bidang hukum ini, mahasiswa bisa membaca buku sambil makan, minum, mengobrol, menonton televisi, bahkan main biliar, internetan, hingga karaokean. Duh, asyiknya.

Ya, konsep perpustakaan yang berdiri sejak 2018 ini, memang berbeda dari perpustakaan kebanyakan. Tentu ada maksudnya. Tak lain untuk menumbuhkan minat baca bagi mahasiswa.

“Perpustakaan ini memang konsepnya beda. Di sini ada meja biliar, kafe untuk makan dan minum, ada elektroniknya juga. Bahkan mesin e-katalog kita adopsi dari Selandia Baru,” kata Dr H Firman Freaddy Busroh, SH, M Hum, Ketua Pembina STIHPADA, Jumat (24/1).

Terciptanya Digital Library Café STIHPADA, demikian sebutan untuk perpustakaan tersebut, hasil studi banding dari beberapa negara yang ia kunjungi, seperti Korea Selatan, Rusia, dan Amerika Serikat.

“Kalau dari segi keluasan, kita mengikuti standar perpustakaan di Indonesia. Hanya saja di dalamnya berbeda. Karena kita banyak mengadopsi perpustakaan di luar negeri,” tutur putra dari mendiang pakar hukum Sumsel, Prof H Abu Daud Busroh, SH ini.

Selain sejumlah fasilitas tadi, di perpustakaan ini juga ada lounge, musala, dan fasilitas standar perpustakaan lain. “Kita juga punya e-book (buku elektronik), yang jumlahnya 15 ribu judul dari seluruh dunia,” ujarnya.

Berada di perpustakaan ini memang terasa nyaman. Terlebih suasananya yang asyik. Tata ruangnya berkonsep Korea. Warna biru dan jingga yang dipilih mengandung makna yakni, biru warna yayasan dan jingga warna STIHPADA.

Di bagian tengah ruangan ada spot untuk talkshow atau diskusi. Di depannya ada meja biliar. Lalu di sampingnya kafe. Di beberapa sudut ruangan juga terpajang action figure, yang menambah semarak ruangan. Pokoknya benar-benar tempat yang enak untuk bersantai sambil menambah ilmu.

“Ada 4000 lebih koleksi buku di sini. Masih terus kita tambah koleksi bukunya. Kalau koleksi e-Booknya di alat ini sebanyak 15 ribuan,” katanya menunjuk pada alat e-katalog yang diimpor dari Selandia Baru.

Selain buku hukum, di perpustakaan ini juga ada area membaca buku novel untuk anak-anak. “Anak-anak bisa istirahat sambil baca novel di sini. Juga ada buku agama,” ujar penggemar action figure ini.

Ia mengatakan bahwa perpustakaan ini sudah terakreditasi perpustakaan nasional pada November kemarin. “Tidak banyak perpustakaan itu yang terakreditasi. Memang perpustakaan kita ini berbeda. Ada action figure-nya,” ucap Duta Baca ini sambil tersenyum.

Untuk mereka yang tak mau diganggu saat membaca, ada ruangan khusus kedap suara. Di perpustakaan ini juga ada penjualan kaus dan e-Money STIHPADA.

“E-money ini bisa traksaksi untuk tol dan berbelanja. Kita kerja sama dengan Bank Mandiri,” tukasnya.

Disinggung mengapa memilih konsep perpustakaan dari luar negeri, ia mengatakan, memang seperti inilah cara untuk meningkatkan budaya membaca. Dan itu sudah diterapkan negara-negara maju.

“Kita ini dihadapkan persoalan anak-anak zaman sekarang malas ke perpustakaan. Mereka menganggap perpustakaan itu menjemukan, tidak mengasyikkan. Kita berusaha menerapkan konsep Digital Library Café agar anak-anak muda ini mau ke perpustakaan,” tuturnya.

Lantaran konsepnya berbeda, ia mengatakan, mahasiswa ramai ke perpustakaan. “Minimal 50 orang masuk perpustakaan. Bahkan bisa sampai penuh. Di sini kapasitasnya bisa sampai seratus orang,” tukasnya.

Menurutnya, perpustakaan itu harus jadi pusat komunitas. Tidak hanya membaca. “Di sini bisa diskusi, hiburan. Suara musik pun tak masalah di sini. Bisa karaokean kita di sini. Makanya memang beda perpustakaan kita dengan yang lain,” tukasnya. Perpustakaan Kampus STIHPADA beralamat di Jalan Sukabangun 2 No 1610, Sukabangun, Kecamatan Sukarami, Palembang. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here