Home Sejarah Bermula dari Perilaku Buruk Utusan Belanda di Palembang

Bermula dari Perilaku Buruk Utusan Belanda di Palembang

0
Sketsa Keraton Kuto Gawang yang lokasinya kini menjadi pabrik PT Pusri di kawasan 1 Ilir Palembang

Oleh Dudi Oskandar
Jurnalis dan Pemerhati Sejarah

Bermula dari Perilaku Buruk  Utusan Belanda di Palembang 1
Dudi Oskandar

DALAM tulisan sebelumnya di jelaskan bagaimana VOC menghancurkan Keraton Kuto Gawang, kali ini akan dijelaskan bagaimana konflik Kerajaan Palembang dan VOC tersebut terjadi.

Bermula dari ketidaksukaan orang Palembang terhadap seorang saudagar Belanda yang datang sebagai utusan Gubernur Jenderal Belanda di Batavia.
Ketidaksukaan orang Palembang terhadap orang tersebut cukup beralasan karena perilakunya sangat buruk dan dipandang sewenang-wenang, misalnya menahan kapal Tiongkok dan menyita muatannya yang berupa lada di dalam wilayah kedaulatan Kerajaan Palembang yang bukan wilayah Belanda.

Kejadian penyitaan ini terjadi pada tahun 1657 ketika perwakilan dagang VOC di Palembang di bawah pimpinan Anthonij Boeij.

Kejadian lain yang cukup membuat orang Palembang marah adalah ketika Anthonij Boeij meminta izin kepada Pangeran atas kapal Quinammer untuk ke Palembang. Setelah izin diberikan Boeij membawa kapal tersebut ke Pulau Kembaro ( Pulau Kemaro) dan kemudian membakarnya di sana.

Rupa-rupanya Boeij tidak merasa bersalah dengan melakukan perbuatan perampasan kapal Tiongkok dan pembakaran kapal Quinammer.

Pada tanggal 19 Maret 1657 ia datang lagi ke Palembang untuk berdagang lada. Kapal yang dibawanya hanya dua, yaitu kapal kecil dan sebuah fliut (kapal pengangkut yang bertiang tiga). Misi dagang ini tidak berhasil, dan pada tanggal 30 Juni ia sudah kembali ke Batavia. la segera menyadari kalau jiwanya terancam akibat dari perbuatannya di masa lampau.

Karena itulah kompeni segera menunjuk Cornelis Ockersz sebagai penggantinya.
Ockersz sebetulnya termasuk orang yang juga tidak disukai di Sumatera.

Di Jambi ia hanya bertahan selama beberapa bulan keberadaannya tidak disukai oleh penguasa Jambi karena perilakunya yang tidak menyenangkan.
Melalui surat resmi tertanggal 15 Januari 1657, penunjukan Ockersz sebagai wakil dagang ditolak. Penolakan ini dapat diterima oleh pemerintah di Batavia.

Karena itu pemerintah Batavia menunjuk Pieter de Goijer sebagai wakil dagang di Jambi, dan menunjuk Cornelis Ockersz sebagai wakil dagang di Palembang.
Akibat perilaku Anthonij Boeij ini berdampak kurangnya kepercayaan orang Palembang kepada orang Belanda.

Pada tanggal 22 Februari 1658 ketika wakil dagang VOC yang dijabat oleh Cornelis Ockersz datang ke Palembang, ketidakpercayaan orang Palembang masih kental. Dapat dikatakan menjurus kepada dendam. Ketika dia menghadap raja Palembang, raja memperlihatkan kemarahannya kepada Ockersz dengan cara mengungkit peristiwa Boeij.

Walhasil, perundingan untuk kontrak dagang tidak membuahkan hasil, dan pada tanggal 9 Juni 1658 ia kembali ke Batavia untuk melaporkan hasil tugasnya di Palembang.

Beberapa hari kemudian, pada tanggal 25 Juni 1658 ia kembali lagi ke Palembang dengan membawa kapal Jacatra. Entah karena apa, sebelum masuk Palembang ia menahan beberapa kapal yang sedang melayari Musi.

Di antara kapal yang ditahan itu, terdapat kapal milik putra mahkota Mataram. Insiden di Sungai Musi itu menyulut api peperangan. Kapal Jacatra menembaki kapal-kapal lain dan juga kota Palembang. Dalam peristiwa itu banyak korban yang mati dan luka-luka.

Akibatnya pasukan Kerajaan Palembang melakukan penyerbuan dan menyebabkan Cornelis Ockerz dan 42 orang Belanda terbunuh dan 24 orang lainnya ditawan. Sementara Jacatra dan de Wachter direbut dan dikuasai. Pada akhirnya insiden itu dapat diselesaikan dengan damai.

Namun setelah itu hubungan Palembang dan Batavia memburuk hingga akhirnya Keraton Kuto Gawang dihancurkan pasukan VOC.
Keraton Kuto Gawang menjadi arang dan abu karena adanya penyerbuan dan pembumihangusan oleh VOC dibawah pimpin Laksamana Johan van Der Laen pada tanggal 24 November 1659.

Penyerbuan dan pembumihangusan ini sebagai jawaban atas penyerbuan kerajaan Palembang terhadap Kedatangan VOC yang mengirim Cornelis Ockerz ke Palembang dengan armada laut Jacatra dan de Wachter untuk memenuhi kontrak dagang terutama timah dan lada dengan Kerajaan Palembang.

Penyerbuan Kerajaan Palembang ini menyebabkan Cornelis Ockerz dan 42 orang Belanda terbunuh dan 24 orang lainnya ditawan. Sementara Jacatra dan de Wachter direbut dan dikuasai.

Setelah peristiwa penyerbuan dan pembumihangusan Keraton Kuto Gawang, raja dan rakyat Palembang kemudian mengungsi ke luar kota meninggalkan reruntuhan Keraton Kuto Gawang setelah berhasil menyelamatkan diri dari gempuran pasukan VOC. Raja Palembang, Pangeran Sido Ing Rejek Ratu Mangkurat Jamaluddin (1652-1659) juga ikut mengungsi ke daerah pedalaman melalui sungai Ogan sampai ke Indralaya.

Di daerah ini Pangeran Sido Ing Rejek Ratu Mangkurat Jamaluddin mencoba untuk membangun kembali kekuatan. Namun, tidak berhasil dan akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di sana sampai akhirnya meninggal di daerah Sakatiga (Ogan Ilir).

Pangeran Sido Ing Rejek Ratu Mangkurat Jamaluddin digantikan oleh saudaranya yang bernama Ki Mas Hindi yang bergelar Pangeran Ario Kesumo Abdurrohim. Sampai akhirnya, Ki Mas Hindi mendirikan kesultanan Palembang Darussalam kemudian bergelar sultan Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayyidul Imam. ***

Sumber:
1. Kota Palembang dari wanua Sriwijaya menuju Palembang modern, Pemerintah Kota Palembang , 2012
2. . Johan Nieuhof, (1682), Voyages and Travels to the East Indies 1653-1670 , dicetak ulang oleh Singapura: Oxford University Press, 1986 hlm 186-189

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here