Home Headline News Cetak Sejarah, Gubernur Pertama Datangi Balaputra Dewa

Cetak Sejarah, Gubernur Pertama Datangi Balaputra Dewa

0
Gubernur Sumsel, Herman Deru dan istri, Febrita Lustia saat foto bersama anak-anak PAUD, yang ikut serta dalam lomba mewarnai di Museum Balaputra Dewa.

Herman Deru Naikkan Anggaran Museum 10 Kali Lipat

PALEMBANG, PE – Kehadiran Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru membuka Lomba Mewarnai yang digelar Harian Umum Palembang Ekspres di halaman Museum Negeri Provinsi Sumsel Balaputra Dewa, Rabu (7/8), meninggalkan kesan mendalam. Bahkan bisa dibilang mencetak sejarah.

Mantan bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Timur dua periode itu dikatakan sebagai Gubernur Sumsel pertama yang secara spesial mendatangi menginjakkan kakinya bersama istri, Hj Febrita Lustia di museum yang berada di Jalan Srijaya 1, nomor 28, Alang-Alang Lebar Palembang.

“Menurut pegawai Museum yang berpuluh tahun telah mengabdikan diri di sini, belum pernah selama itu ada Gubernur yang datang secara khusus ke sini. Apalagi hari ini, tak hanya membuka acara lomba, kemudian menyapa seluruh peserta lomba yang jumlahnya ribuan anak dan orang tua. Pak Herman Deru dan Ibu Feby (sapaan Febrita Lustia) menyempatkan diri singgah di Rumah Limas, salah satu koleksi Museum Balaputra Dewa,” ungkap Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Museum Negeri Provinsi Sumsel Balaputra Dewa, H Chandra Amprayadi SH di sela mendampingi Gubernur Herman Deru.

Sementara itu, minimnya perhatian, kegiatan dan perawatan di sejumlah museum milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel memantik keprihatinan tersendiri dari Gubernur Herman Deru. Iapun berkomitmen memberikan anggaran pengelolaan museum yang lebih proporsional kedepan. Tak tanggung-tanggung, Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) ini menaikkan anggaran museum dalam jumlah yang lumayan bombastis. Sepuluh kali lipat dari alokasi dana sebelumnya.

“Saya yakinkan tahun ini anggaran untuk perbaikan, perawatan dan kegiatan di sini (UPTD museum) akan lebih proporsional. Karena aset berharga ini bukan hanya harus dijaga tapi juga dikenalkan ke masyarakat luas, terutama anak-anak dan generasi muda agar mereka mencintai sejarah mereka. Kita naikkan seribu persen atau sepuluh kali lipat,” tegas Deru didampingi Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteran Keluarga (TP PKK) Sumsel yang juga Bunda PAUD Sumsel, Febrita Lustia serta Wakil Ketua TP PKK Sumsel, Hj Fauziah.

Deru yang dijuluki sebagai Bapak Rumah Tahfizh ini menambahkan, museum merupakan aset yang sangat berharga, sehingga bukan hanya harus dipelihara dengan maksimal. Melainkan sedapat mungkin keberadaannya juga diaktifkan dengan berbagai event untuk menarik masyarakat berkunjung ke museum.

“Saya sangat mengapresiasi lomba mewarnai museum ini. Agar museum ini ramai memang harus ada “gula-gula”nya biar orang mau datang. Anak dan cucu kita punya hak berkreasi tapi mereka tidak berdaya melakukan kreatifitas tanpa kita fasilitasi. Saya sangat mengapresiasi kegiatan mewarnai dengan menyedot ribuan anak-anak ke museum. Apalagi, mewarnai merupakan sesuatu yang paling disukai di dunia anak,” tuturnya.

Menurut Deru, anak-anak perlu tahu bahwa sebelum mereka lahir ada banyak peristiwa penting yang terjadi. Dengan eksistensi museum ini pula diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran mereka.

“Misalnya komputer, bisa dicari dan dipajang proses perubahannya dari yang zaman dulu pakai tabung tebal sampai sekarang tebal 2 cm. Endingnya biar anak-anak tahu bahwa kejadian hari ini ada rentetan proses sebelumnya. Itu baru soal teknologi sejarah peradaban, pembangunan juga begitu,” jelasnya.

Karena itu, kedepan Deru meminta kreatifitas jajaran museum ikut ditingkatkan dengan melibatkan semua pihak tanpa mengedepankan profit tapi edukasi kepada anak-anak.

Masih kata Deru, pengelola museum harus memiliki kreativitas dalam menarik minat masyarakat untuk mengunjungi museum. Untuk itulah, sambung HD, kegiatan lomba mewarnai harus digelar rutin sebagai upaya dalam menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke museum. “Lakukan kegiatan seperti ini tiga bulan sekali, atau kalau berat bisa empat bulan sekali. Namun yang jelas kegiatan ini sangat bagus untuk mengenalkan museum,” pesannya.

Deru menjelaskan, keberadaan museum sebagai metode pembelajaran yang sangat efektif dalam mengenalkan sejarah peninggalan daerah di era milenal. Hal ini mengingat, anak-anak yang lahir sudah mengenal teknologi sehingga cukup rentan tidak mempedulikan peninggalan sejarah.

“Mereka lahir sudah kenal youtube, beda dengan zaman kita. Oleh sebab itulah, kehadiran museum sangat penting untuk mengenalkan sejarah kita,” ucapnya.

Tak hanya membuka acara, di sela kegiatan itu Deru juga ikut melukis di atas kanvas serta menyempatkan diri mengunjungi ke dalam Museum Rumah Limas yang sudah berusia ratusan tahun.

Saat melukis, Herman Deru tampak sangat antusias. Tampak dia menggambar matahari lengkap dengan gunung dan persawahan. Serta gambar komputer di sudut kiri bawah kertas serta tulisan 1 digit.

“Gambar ini menunjukkan bahwa Sumsel ini punya potensi yang sangat luar biasa. Gambar komputer ini juga menerangkan kalau kita punya SDM yang bagus. Tinggal bagaimana kita mengelola ini semua dengan baik agar angka kemiskinan turun 1 digit,” ulasnya.

Sementara itu, saat disinggung minimnya alokasi dana untuk pembiayaan sejumlah kegiatan permuseuman, Kepala UPTD Museum Balaputra Dewa Chandra Apriadi menguraikan bahwa tahun lalu anggaran untuk perbaikan, perawatan dan kegiatan sebesar Rp75 juta. Sehingga dia pun mengaku sangat senang soal rencana Gubernur menambah anggaran tersebut untuk memaksimalkan pengelolaan museum.

“Dengan kita adakan lomba ini kita ingin mengenalkan pada adik-adik PAUD ini tahu bahwa museum tempat adalah tempat yang bagus untuk dikunjungi karena bersejarah dengan koleksi bagus dan dapat menambah pengetahuan,” jelasnya.

Senada Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Aufa Syarkawi mengatakan acara ini melibatkan sekitar 3500 anak PAUD se-Kota Palembang. Tak hanya di Museum Balaputra Dewa, lomba ini juga akan digelar di Museum Sriwijaya Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) Karanganyar, Gandus pada 20 Agustus 2019 mendatang.

“Banyak yang tidak kenal dengan museum. Dengan museum ini bisa menjadi media yang informatif mengenalkan budaya bangsa sejak dini,” tukasnya. RIS

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here