Home Headline News Didatangi Tim Museum Balaputra Dewa, Penemu Biduk Bawang Klaim Sebagai Peninggalan Sriwijaya

Didatangi Tim Museum Balaputra Dewa, Penemu Biduk Bawang Klaim Sebagai Peninggalan Sriwijaya

0
Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa Chandra Amprayadi (empat dari kanan) bersama tim mendatangi perahu kayu kuno yang dinamai biduk bawang oleh para penemunya di bibir Sungai Jambu, Tanjung Lubuk, OKI.

KAYUAGUNG, PE – Tim Koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) Balaputra Dewa kembali mendatangi peninggalan diduga bernilai sejarah yang kini masih dimiliki masyarakat. Jika akhir pekan kemarin mendatangi warga yang menyimpan Meriam Setundun dan Tanduk Minangkabau di Musi Rawas Utara (Muratara).

Kali ini tim museum yang dipimpin langsung Kepala Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa, H Chandra Amprayadi SH mendatangi temuan perahu berbentuk lesung yang oleh penemunya diberi nama Biduk Bawang di Kelurahan Tanjung Lubuk, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Biduk Bawang yang kini masih terdampar tidak jauh dari lokasi penemuan di Sungai Jambu sudah mulai termakan usia. Diketahui, perahu dengan panjang 8,5 meter ini sudah dibiarkan selama lima bulan terakhir. Warga yang menemukannya meyakini perahu tersebut peninggalan masa kerajaan Sriwijaya di abad ketujuh Masehi.

Salah seorang penemu Biduk Bawang, Anwar (42) bercerita, perahu yang diyakini berbahan batang rengas tersebut berawal dari aktivitas dia dan beberapa rekannya sebagai penambang pasir. Bermula saat tiga rekannya menemukan selendang warna kuning yang tersedot dari mesin penyedot pasir.

“Kami menemukan selendang itu tepat 1 Muharram tahun kemarin (1441 Hijriyah) atau bertepatan 1 September 2019. Setelah kejadian menemukan selendang kuning berbahan halus dan transparan itu, ada seorang teman mendapat mimpi kalau saya akan dimakan buaya besar di sungai Jambu tempat kami menambang pasir,” kenangnya.

Keesokan harinya, sambung Anwar, temannya yang bernama Darmawan (38) menemui dirinya dan bertanya perihal mimpi tersebut. Dari sana, dia mengaku menemukan selendang dan disarankan oleh Darmawan untuk dikembalikan di tempat semula. Akhirnya selendang itu dikembalikan ke tempat semula yang kemudian dikatakan langsung menghilang secara gaib.

“Malam harinya, Darmawan kembali mendapat mimpi untuk menggali lokasi ditemukan selendang karena akan ada perahu sebagai hadiah kepada kami yang telah mengembalikan selendang itu,” jelasnya.

Senada, Darmawan mengaku proses pengangkatan perahu lesung mengalami kesulitan. Padahal, pihaknya sudah memasang drum dan ban untuk mempermudah pengangkatan. “Setelah minta pengarahan dari orang pintar, proses pengangkatan perahu ini hanya membutuhkan empat orang,” sebutnya.

Dia menjelaskan, Biduk Bawang ditemukan di kedalaman tujuh meter dari dasar sungai. Posisi perahu sendiri melintangi Sungai Jambu dan diyakini berasal dari masa Kerajaan Tulang Bawang, Lampung yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Sriwijaya.

Berdasar petunjuk gaib yang diperolehnya, beber Darmawan, dulunya biduk itu membawa seorang putri dari Kerajaan Tulang Bawang yang lari dari kejaran prajurit Kerajaan Sriwijaya. Tiba di aliran Sungai Jambu yang menghubungkan Sungai Komering dan Sungai Ogan, putri bersama pengawalnya kemudian menetap di kawasan tersebut.

“Percaya atau tidak, itulah yang kami alami. Kami juga sempat menemukan sebilah tombak namun langsung menghilang tanpa dapat ditemukan lagi. Sementara proses pengangkatan biduk itu terbilang sangat susah padahal sudah kami pasang pelampung. Bersama Biduk Bawang, kami juga menemukan dua utas tali dari ijuk,” pungkasnya.¬†RIS

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here