Home Sejarah Harian Fikiran Rakjat, Koran Palembang yang Menguliti Kebusukan Pemerintah Kolonial ...

Harian Fikiran Rakjat, Koran Palembang yang Menguliti Kebusukan Pemerintah Kolonial Belanda

0
Harian Fikiran Rakjat, Koran Palembang yang Menguliti  Kebusukan Pemerintah Kolonial  Belanda 1
Dudy Oskandar.

Oleh: Dudy Oskandar
(Jurnalis, Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

PADA pertengahan tahun 1946 itu juga, atas usaha Rachman Thalib, R.A. Hakky, Samidin, dll, diterbitkan suatu surat kabar (koran) baru dengan nama “Fikiran Rakjat”. Pimpinan Redaksi dipegang oleh Samidin, sedangkan penerbitannya, berhubung kesulitan kertas dilakukan hanya 3 kali seminggu terbit.

Surat kabar ini merupakan penggedor semangat perjuangan kemerdekaan rakyat dengan menguliti segala kebusukan politik kolonial Belanda dibawah pimpinan Dr. Van Mock ketika itu, juga surat kabar ini “menyikat ” segala excessen atau akibat didalam revolusi.

Tidaklah heran kalau perkara mutu koran kala itu tidaklah menjadikan soal yang penting, tetapi yang terpenting adalah bahwa surat kabar itu dijadikan tambur dan trompet perjuangan membakar semangat rakyat membenci penjajahan.

Sumber pemberitaan dalam dan luar negeri harian Fikiran Rakyat itu adalah berita’ “Antara” yang kantor cabangnya di Palembang dipimpin oleh Mailan. Sudah tentu dengan tiada bantuan dan perlindungan dari pihak Pemerintah Republik, Kantor Berita “Antara” ketika itu tidaklah akan mungkin dapat membiayai dirinya. “Antara”-lah satu’-satunya sumber segala pemberitaan dari seluruh Nusantara dan seluruh dunia ketika itu disamping radio, bagi daerah Sumatera Selatan umumnya yang praktis terputus hubungannja dengan daerah lain (pulau) akibat blokade Belanda di lautan.

Kantor Harian Fikiran Rakyat Dihancurkan Belanda

Harian Fikiran Rakjat menghadapi suatu malapetaka besar, ketika pada tanggal 1 Januari 1947, pecah pertempuran 5 hari 5 malam antara rakyat melawan tentera Belanda.

Ketika pertempuran berakhir, sebagian dari Kota Palembang menderita kerusakan-kerusakan dan kebakaran-kebakaran, akibat tembakan meriam dan mortir dari Belanda.

Akibatnya Kantor Djawatan Penerangan, kantor harian Fikiran Rakjat ikut rusak berantakan dihancurkan Belanda, hal serupa dialami Percetakan Negara (Percetakan K.A. Ebeling) ketika itu.

Sayang Harian Fikiran Rakjat sendiri setelah kejadian itu tidak dapat diterbitkan kembali, berhubung kerugian besar yang dialaminya ketika terjadi pertempuran.

Lalu Harian Fikiran Rakjat pada bulan Oktober 1949 diterbitkan kembali atas usaha R.A. Hakky, Rahman Thalib dan Hamid Husin dengan A.A. Harahap sebagai pemimpin redaksinya.

Sayang penerbitan harian ini tidak lama umurnya, hingga terpaksa berhenti diakhir tahun 1949.

Selain itu, selama masa pendudukan kolonial Belanda hingga masa negara federal harian Fikiran Rakjat tetap terbit dibawah pimpinan RA. Hakky, Samidin dan Rachman Thalib dengan juga tidak kurang mengalami tekanan oleh pihak tentera Belanda dan reaksi orang Indonesia, yang sedang sibuk ketika itu menyusun persiapan untuk mendirikan negara Sumatera Selatan.

Sementara itu, di daerah Republik yang dibatasi oleh garis “Renville” yang terkenal, pers merdeka dengan menghadapi 1001 macam kesulitan materil dilanjutkan terus.

Alat percetakan yang dipakai tidak lebih dari stensil. Ketika Belanda melancarkan aksi militernya yang kedua pada 19 Desember 1948 yang kemudian sampai menduduki Kota Curup dan Tanjung Karang, tamatlah riwayat kantor berita gerilya Antara ketika itu.

Harian Fikiran Rakjat juga sempat mengalami masa dimana wartawannya ditawan Belanda. Mereka adalah Idrus Nawawi, RA. Hakky, Rahman Thalib, juga A.A. Harahap, yang menjadi koeresponden surat kabar Republikein di Medan .

Wartawannya sempat mengalami 1 sampai 2 bulan penawanan, sampai akhirnya mereka dibebaskan kembali dan surat kabarnya tidak dilarang untuk diterbitkan kembali.

Hanya wartawan AA. Harahap masih tetap ditahan, hingga kemudian dibeslitkan pengusiran keluar daerah Sumatera Selatan bersama-sama beberapa pemimpin Republik lainnya. ***

Sumber:
1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here