Home Headline News Harimau Sumatera Tersisa 17 Ekor di Sumsel

Harimau Sumatera Tersisa 17 Ekor di Sumsel

0
BKSDA Sumsel menangkap Harimau Sumatra di Muara Enim, Sumsel. (Foto: Dok./BKSDA Sumsel)

PALEMBANG.PE – Jumlah harimau Sumatera di Sumatera Selatan tinggal tersisa 17 ekor. Namun jumlah tersebut diperkirakan bertambah, lantaran belum ada kasus pembunuhan harimau akibat perburuan manusia.

“Itu data lama, tahun 2016. Bisa saja bertambah. Sebab dalam tiga tahun terakhir belum ada kasus pembunuhan harimau oleh perburuan manusia. Malah, dari informasi yang kami terima itu ada harimau Sumatera yang melahirkan,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman Hasibuan, usai pembukaan Lokakarya Penanggulangan Konflik Manusia dan Satwa Liar di Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini berlangsung di Hotel The Alts, Senin (10/2/2020).

Dikatakan dia, habitat harimau di Sumsel, yakni di Kabupaten Lahat, Muaraenim, OKU Selatan, OKU, Banyuasin, Musi Banyuasin, Musi Rawas Utara, dan Pagaralam. Namun jumlah harimau terbanyak, ada di daerah Rejang Lebong, Bengkulu.

Menurutnya, untuk melestarikan populasi harimau, pihaknya terlebih dahulu mengidentifikasi wilayah jelajah si raja hutan itu.

“Kita identifikasi daerah territorial harimau. Setelah itu kita komunikasikan ke semua pihak, termasuk masyarakat. Di situ dibuat komitmen. Kalau memang daerah itu habitat harimau, jangan diganggu, ucapnya.

Bukan berarti tidak boleh memanfaatkan hutan dan hasil-hasilnya. Untuk wilayah yang jadi daerah teritorial harimau, pemanfaatnya harus berkesesuaian.

“Mesti diatur pemanfatannya. Misal kalau itu masuk daerah jalan gajah, jangan ditanam tebu. Pasti akan dimakan gajah. Demikian juga satwa lain,” tuturnya.

Belakangan ini harimau Sumatra yang menyerang warga, ia melanjutkan, ada di Muara Enim, Lahat dan Pagar Alam. Rata-rata harimau Sumatra sering muncul itu berusia 2-3 tahun, karena terpisah dari induknya.

Risiko konflik antara manusia dan satwa liar di Sumsel bisa terus berlanjut. Itu terjadi jika habitat satwa liar terganggu dan rantai makanan yang terputus, akibat perburuan oleh manusia.

“Kami masih terus menyelidiki penyebab pastinya, kenapa harimau Sumatera itu terus menyerang warga. Apakah habitatnya dirusak atau rantai makanan mereka yang terputus,” ujarnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here