Home Palembang LRT Transportasi Murah, Cepat, Anti Macet

LRT Transportasi Murah, Cepat, Anti Macet

0
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan Nelson Firdaus, berfoto bersama jajaran pengurus Masyarakat Perkeretaapian Indonesia.

Palembang, PE – Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan Rosita menganjurkan masyarakat untuk menggunakan transportasi massal Light Rail Transit (LRT). Terlebih moda transportasi ini cepat, murah, dan antimacet.

“LRT mempersingkat waktu tempuh. Posisi sebelum 5 Oktober, waktu tempuh dari stasiun awal sampai stasiun akhir 60 menit. Setelah tanggal tersebut, waktu perjalanan menjadi 47 menit. Sudah hampir mendekati waktu tempuh moda darat,” ujarnya dalam Lokakarya Peran LRT Dalam Meningkatkan Perekonomian Provinsi Sumsel di Hotel Beston, Selasa (8/10).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (Maska). Hadir sebagai pembicara, Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan Rosita, Kepala Bidang Perkeretaapian Dinas Perhubungan Sumsel Ahmad Wahidin, General Manager LRT Sumsel Sofan Hidayah, dan pengamat transportasi dari Universitas Sriwijaya Erica Buchori. Adapun bertindak sebagai moderator, Krisna Amir Hamza yang merupakan Sekretaris Maska.

Acara juga dihadiri Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan Nelson Firdaus yang membuka acara, Ketua DPP Maska Hermanto Dwiatmoko dan Ketua DPD Maska Sumsel Joni Adriansyah.

Dikatakan Rosita, waktu tempuh moda darat dari Stasiun DJKA OPI menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II hanya 40 menit, dengan catatan tidak macet. “Kalau macet, waktu tempuhnya bisa satu sampai satu setengah jam. Jadi jangan ragu naik LRT. Kenapa? 47 menit,” ucapnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Ia melanjutkan, sejak 5 Oktober 2019, LRT Sumsel beroperasi 06.00 sampai 20.25 WIB. Tadinya dijadwalkan pukul 04.00 WIB, namun kemudian dimundurkan dua jam. Hal ini lantaran operator butuh waktu untuk penyempurnaan sistem, guna meningkatkan kinerja LRT. Imbasnya, empat perjalanan dibatalkan.

“Untuk penyempurnaan sistem, kita butuh lima jam. Terhitung 5 Oktober, pemberlakuan Gapeka (Grafik perjalanan kereta api), kita operasional pukul 06.00 sampai 20.25,” katanya.

Kemudian terkait waktu kedatangan antar kereta atau headway, sebelumnya paling cepat 24 menit. Sedangkan yang terlama 48 menit. “Sekarang bisa 18 menit. Jadi Bapak Ibu, ayo naik LRT,” ujarnya.

Sedangkan jumlah perjalanan LRT, sebelum pemberlakukan Gapeka baru, 58 perjalanan dalam sehari. Setelah 5 Oktober menjadi 74 perjalanan.

“Kita gunakan lima set rangkaian. Dua set cadangan, sedangkan satu dalam perawatan,” ucapnya.

Adapun tarif yang ditetapkan dari dan ke bandara Rp10 ribu, sedangkan selain ke bandara hanya Rp5.000. Kalau naik ojek online, dari OPI menuju Bandara bisa dikenakan biaya Rp80 ribu. “Naik LRT cuman Rp10 ribu. Itu sudah sangat murah,” tukasnya.

Ke depan, pada Desember 2019, pihaknya akan memperpanjang jam operasional lantaran sistem sudah sempurna, yakni dari pukul 04.00 sampai 20.30. “Bahkan bisa menjadi ke jam 22.30 untuk mengakomodir pesawat terakhir. Otomatis waktu perjalanan bertambah, bisa lebih dari 98 perjalanan,” tukasnya.

Kepala Bidang Perkeretaapian Dinas Perhubungan Sumsel Ahmad Wahidin mengatakan, upaya integrasi moda sudah dilakukan. LRT Sumsel telah terintegrasi dengan 19 rute penerbangan (17 rute domestik dan dua rute internasional). Lalu ada moda pendukung Damri di Stasiun Bandara.

“Pada Februari 2019 LRT Sumsel telah terkoneksi dengan BRT, bis Transmusi dan Damri,” ujarnya.

Direncanakan angkutan feeder (angkutan penghubung) LRT, ia mengatakan, akan diberikan subsidi. “Jadi rute MRT akan disokong oleh angkutan feeder yang disubsidi oleh pemerintah pusat melalui Dirjen Perhubungan Darat. Tujuannya agar LRT Sumsel ini jadi moda angkutan utama,” tukasnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here