Home Palembang Okupansi LRT Naik Jadi 28 Persen

Okupansi LRT Naik Jadi 28 Persen

0

PALEMBANG, PE – Minat masyarakat menggunakan moda transportasi kereta api ringan (Light Rail Transit/LRT) Sumatera Selatan, menunjukkan perkembangan menggembirakan. Dari Januari hingga September 2019, okupansi rata-rata naik jadi 28 persen.

“Penumpang rata-rata di Januari 4.700 orang. Sampai September naik jadi tujuh ribu lebih untuk penumpang harian. Kemudian penumpang weekend, sudah mendekati 10 ribu orang,” kata Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan Rosita dalam Lokakarya ‘Peran LRT Dalam Meningkatkan Perekonomian Provinsi Sumsel’ di Hotel Beston, Selasa (8/10).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (Maska). Hadir sebagai pembicara, Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan Rosita, Kepala Bidang Perkeretaapian Dinas Perhubungan Sumsel Ahmad Wahidin, General Manager LRT Sumsel Sofan Hidayah, dan pengamat transportasi dari Universitas Sriwijaya Erica Buchori. Adapun bertindak sebagai moderator, Krisna Amir Hamza yang merupakan sekretaris Maska.

Dikatakannya, penumpang rata-rata September per harinya mendekati enam ribu orang. Kalau dibandingkan dengan Januari, okupansi naik dari 19 persen jadi 28 persen. “Saya optimis lima tahun ke depan masyarakat Palembang akan menggunakan LRT. Kami butuh dukungan dari semua pihak,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, saat angkutan Lebaran lalu, okupansi bahkan mendekati 92 persen. Banyak wisaawan yang datang untuk mencoba LRT.
Nilai investasi prasarana LRT, ia mengatakan, sangat fantastis. Besarannya mencapai Rp12,1 triliun, sedangkan investasi sarana dari PT Kereta Api Indonesia senilai Rp640 miliar untuk delapan train set kereta. Adapun biaya operasional yang digelontorkan pemerintah pusat Rp123 miliar.

“Kurang apa lagi Kota Palembang coba? Luar biasa bukan,” ucapnya. Dari Rp123 miliar biaya operasional tadi, ia melanjutkan, sebanyak 68 persen untuk membayar biaya listrik. Selebihnya 32 persen biaya operasional. “Kenapa bisa mahal, karena tarif listrik yang dikenakan di LRT adalah tarif premium. Kita butuh dukungan dari teman-teman Maska untuk membantu kami. Kita sedang perjuangkan ke Kementrian ESDM agar tarif listrik diturunkan,” ucapnya.

Dikatakannya, Jakarta bisa dikenakan tarif traksi untuk kereta rel listriknya. LRT Sumsel mestinya juga bisa. “Kalau itu terjadi, biaya listrik dapat diturunkan menjadi Rp3 miliar per bulan dari saat ini Rp750 miliar per bulan,” ujarnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here