Home Nasional Pemerkosa 12 Bocah Segera Dikebiri

Pemerkosa 12 Bocah Segera Dikebiri

0

MOJOKERTO.PE – Pemerkosa dan pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak memang harus dihukum seberat-beratnya. Apalagi jika korbannya lebih dari satu anak. Keadilan itulah yang ditunjukkan para hakim Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur dalam kasus yang menjerat M. Aris.

Permohonan banding yang diajukan pria bejat itu ditolak PT. Warga Mengelo, Sooko, Kabupaten Mojokerto, yang ditangkap karena memerkosa sedikitnya 12 bocah tersebut tetap harus menjalani hukuman penjara selama 12 tahun dan denda Rp 100 juta. Dia juga tetap dihukum pidana tambahan berupa kebiri secara kimia. Hukuman yang disebut terakhir itu membuat Aris tak akan bisa lagi merasakan ereksi seumur hidup. Hukuman kebiri tersebut menjadi yang pertama di Indonesia sejak terbitnya Perppu 1/2016 tentang Perubahan Kedua UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto menyatakan segera menindaklanjuti putusan PT tersebut. Eksekusi berupa kebiri kimia akan dilakukan tim dokter.

Kajari Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono menjelaskan, rencana eksekusi sedang dimatangkan jaksa eksekutor. ”Saya sudah memerintahkan jaksa eksekutor untuk segera mencari dokter,” ungkap dia kepada Jawa Pos Radar Mojokerto. Dia menambahkan, kasus itu telah dinyatakan inkracht karena terpidana tak mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). ”Putusan PT tepat 8 Agustus lalu,” tandas Rudy.

JPU M. Syarief Simatupang menambahkan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan sejumlah dokter spesialis. Pihaknya akan mengajukan surat ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI). IDI-lah yang akan menunjuk dokter spesialis untuk menjalankan putusan pengadilan tersebut.

Sementara itu, Handoyo, kuasa hukum Aris, mengatakan bahwa pihaknya belum menerima salinan putusan PT tersebut. Sebab, langkah hukum ke pengadilan tinggi dilakukan keluarga Aris. ”Karena itu, sampai sekarang (kemarin, Red) saya belum tahu,” jelasnya. Meski demikian, dia mengkritik sanksi kebiri. Menurut dia, hukuman kebiri sangat berat karena harus ditanggung Aris seumur hidup. ”Menurut saya, cukuplah hukuman badan. Itu sudah sangat berat,” jelasnya. Hukuman kebiri, menurut Handoyo, tidak manusiawi. ”Apalagi, klien saya itu juga kurang normal. Ada yang beda. Seperti orang sedang nglakoni,” katanya.

Jalani Hukuman Penjara Total 20 Tahun

Selain hukuman kebiri, Aris akan menghabiskan sebagian hidupnya di dalam penjara. Sebab, dia dijatuhi hukuman penjara delapan tahun atas kasus kedua yang menjeratnya. Kasus kedua itu terjadi pada Oktober 2018. Aris terbukti memerkosa seorang bocah di Perumahan Surodinawan, Kota Mojokerto. Dengan tambahan hukuman itu, Aris akan menjalani hukuman penjara total 20 tahun. Handoyo mengungkapkan, hukuman penjara 20 tahun itu membuat kliennya menjadi terpidana dengan vonis hukuman maksimal.

Hakim menilai Aris memiliki perilaku yang kejam, keji, dan tak manusiawi. Sebelum beraksi, dia selalu memetakan wilayah target. Sebelum memerkosa bocah-bocah itu, Aris biasanya mengajak korban ke tempat sepi. Di sanalah dia melampiaskan hasrat bejat tersebut. Dia bahkan pernah berbuat tak senonoh kepada seorang bocah di sebuah masjid.

Vonis 12 tahun yang diberikan hakim PN Mojokerto jauh lebih rendah daripada tuntutan JPU. Sebelumnya, JPU menuntut hukuman penjara 17 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan penjara. Hakim PN Mojokerto Joko Waluyo tak sekali ini memberikan hukuman berat terhadap pemerkosa anak. Maret lalu seorang terdakwa kasus pembunuhan disertai pemerkosaan anak dijatuhi hukuman mati. Padahal, JPU hanya mengajukan tuntutan penjara 15 tahun dan denda Rp 3 miliar subsider 6 bulan.

Ketua LPSK Hasto Atmojo menyatakan, kasus pemerkosaan terhadap anak dua tahun belakangan meningkat. Rata-rata pelaku merupakan orang yang dekat dengan korban. Bisa keluarga kandung, keluarga tiri, atau tetangga. “Hukuman yang membuat jera adalah yang ada hukuman tambahannya,” ucap Hasto.

Dia menyatakan, untuk kasus-kasus yang ditangani LPSK, pelaku pemerkosaan selalu mendapat hukuman berat. Rata-rata hukuman maksimal. Ada juga yang ditambah restitusi dan denda. Namun, dia menyayangkan banyaknya restitusi yang tidak dijalankan.

Menurut data LPSK, restitusi yang diajukan mencapai Rp 15 miliar. Namun, yang dikabulkan hakim hanya Rp 5 miliar. Dari jumlah tersebut, yang betul-betul dijalankan hanya sekitar Rp 900 juta. “Mereka (pelaku, Red) beralasan tidak mampu sehingga tidak dijalankan,” ungkapnya.

Untuk hukuman kebiri, Hasto memiliki keraguan. Sebab, belum jelas kebiri yang dimaksud itu berefek sementara atau selamanya. Selain itu, menurut dia, hal tersebut melanggar hak asasi manusia. Dia mengusulkan hukuman lain yang juga memiliki efek jera. “Restitusi dijalankan dan kalau tidak mampu, hukuman subsi­dernya tidak hanya tiga bulan,” ucapnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kementerian PPPA Valentina Ginting mengungkapkan, kebiri merupakan hukuman tambahan. Hukuman kebiri dijatuhkan kepada mereka yang seharusnya memberikan perlindungan kepada anak. Misalnya, pelaku adalah guru atau orang tua. “Kalau yang di Mojokerto ini, dilihat apakah ada hubungan dekat dengan korbannya?” ungkap Valentina.

Dia juga menjelaskan, hukuman kebiri dilaksanakan setelah hukuman utama diselesaikan. Misalnya, terpidana dijatuhi hukuman 10 tahun. Dengan begitu, hukuman kebiri diberlakukan setelah masa tahanan selesai. “Yang melaksanakan adalah Kemenkes setelah mendapat perintah dari jaksa,” ungkapnya.

Hukuman kebiri diberlakukan mulai 2016. Vonis pertama dijatuhkan kepada salah satu warga di Sorong, Papua Barat. Kini pelaku masih menjalani masa tahanan. Belum mendapatkan hukuman kebiri. “Nanti, setelah keluar dan diperiksa kesehatannya, kalau memungkinkan, maka dikebiri,” ucapnya.

Hukuman kebiri diharapkan mampu memberikan efek jera kepada pelaku. Selain itu, berfungsi sebagai pencegahan karena pelaku berada di sekitar anak-anak. Calon pelaku pun seharusnya bisa berpikir panjang. Itu efek jera. Rohnya seperti itu, mencegah lebih banyaknya pelaku kejahatan. JP

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here