Home Sejarah Perjuangan Harian Obor Rakjat, Ditengah Pergolakan Revolusi Kemerdekaan di Palembang

Perjuangan Harian Obor Rakjat, Ditengah Pergolakan Revolusi Kemerdekaan di Palembang

0
Perjuangan Harian Obor Rakjat, Ditengah Pergolakan  Revolusi Kemerdekaan di Palembang 1
Dudy Oskandar

Oleh: Dudy Oskandar
(Jurnalis, Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

“0.K. Gentlemen, I am leaving Palembang very soon. I warn you. Be careful from now on otherwise you’ll be shot to death by the Dutch”.

(“0.K. Tuan-tuan, saya akan segera meninggalkan Palembang. Saya peringatkan kamu, hati-hati mulai sekarang, kalau tidak, kamu akan ditembak mati oleh Belanda ”)

Peringatan terakhir Brigadir Hutchinson yang mewakili balatentera Sekutu saat berada di Palembang dan hendak meninggalkan Palembang kepada redaksi Obor Rakjat di Palembang.

ISTILAH media massa atau pers adalah suatu istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.

Sekitar tahun 1925 masyarakat di Sumatera Selatan (Sumsel) dan dikota Palembang ini khususnya sudah mulai mengenal adanya koran Indonesia, yang diterbitkan oleh orang Indonesia dengan memuat kejadian sehari, kritik dan humor didalam lingkungan masyarakat disini.

Apalagi antara tahun 1945 – 1950-an , pers yang terbit saat itu sering disebut sebagai pers perjuangan. Pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.

Namun pandangan masyarakat yang masih tebal diliputi awan penjajahan ketika itu, sangatlah lain sekali terhadap pekerjaan persurat-kabaran ini.

Wartawannya yang di zaman itu banyak dikenal dengan nama Jurnalis atau tukang koran dipandang masyarakat tidak lebih dari pada seorang yang pekerjannya membuat berita tentang suatu kecelakaan, pencurian, perkara-perkara pembunuhan, perkelahian, dll.

Kesukaan masyarakat dalam membaca surat kabar ketika itu hanyalah terbatas kepada mengikuti berita tentang proses sesuatu perkara di pengadilan misalnya , sentilan-sentilan atau polemik mengenai diri orang.

Disamping itu ada juga yang suka memperhatikan berita-berita pasar, ataupun berita-berita sekitar pergolakan Internasional.

Namun surat kabar yang dianggap sebagai membawa pendapat umum, sebagai pendorong masyarakat berpikiran kritis dan sebagai bahan-bahan pendidik yang murah, belum dikenal masyarakat itu. Ini tak mengherankan justru karena tingkatan kecerdasan dan pendidikan masyarakat kita pada umumnya ketika itu masih sangat rendah sekali.

Secara History bahwa peranan pers juga memegang peranan yang penting pada saat kemerdekaan Indonesia hal itu di tandai dengan banyak terlibatnya tokoh-tokoh pers / wartawan dalam ikut memerdekakan Indonesia, terutama di Provinsi Sumsel khususnya di Palembang, sayang tidak banyak catatan sejarah mengenai perjuangan pers Sumsel selama masa penjajahan.

Sebelum perang kemerdekaan Indonesia di Sumsel terutama di Kota Palembang, dikenal sejumlah media diantaranya Majalah Mutiara dari percetakan Krakatau Pelita dipimpin oleh R. Achmad Azhari, Suluh Marga, dipimpin oleh Arga, Suluh Peladjar. kemudian berganti nama Suluh Masjarakat, yaitu majalah untuk murid-murid dipimpin oleh Tjik Man Ar. dan K.M. Zen Mukti.

Langkah Pemuda dipimpin oleh Hambali Usman, Kedjora dipimpin oleh Husin Mu‘in, SK, Obor Rakjat dibawah pimpinan Dr. A.K. Gani, Nungtjik Ar. dan A.S. Sumadi.

Kiao Paou dibawah pimpinan Lim, Tjanang dibawah pimpinan M. Jahja, Al-Balagh kemudian berganti nama Penerangan terbit dalam masa pendudukan Belanda 1950, dibawah pimpinan Husin Muin dan K.M. Zen Mukti.

Perjuangan Koran Obor Rakjat

Terbitnya harian Obor Rakjat berawal tahun 1946, pimpinan koran “Sumatera Baru” oleh Nungtjik Ar. diserahkan pada A.S. Sumadi ketika beliau menetap di Kota Palembang , etelah melakukan pengembaraan diseluruh Sumatera sebagai pemimpin rombongan perutusan pemuda dari Jakarta.

Lama-kelamaan terasa nama “Sumatera Baru” seakan masih mengingatkan orang pada zaman Jepang dengan serba barunya, hingga akhirnya pada tanggal l Juni 1946, ”Sumatera Baru” dikubur untuk diganti dengan nama baru yaitu ” Obor Rakjat ”.

Kenapa justru “Obor Rakjat” dipakai sebagai nama satu-satunya harian di Palembang ketika itu, mengingat tugasnya ketika itu tegas dan nyata memberikan obor bagi rakyat, apalagi ketika itu sedang berada ditengah pergolakan revolusi kemerdekaan.

Saat itu pimpinan Obor Rakjat berhasil mengisi staf redaksinya dengan tenaga revolusioner, yaitu diantaranya Kaswanda Sucandy, Chodewy Amin, M.U. Riza dan MJ. Sjamsuddin.

Sumber pemberitaan harian ini untuk dalam dan luar negeri itu adalah berita’ “Antara” yang kantor cabangnya di Palembang dipimpin oleh Mailan.

Sudah tentu dengan tiada bantuan dan perlindungan dari pihak Pemerintah, Kantor Berita “Antara” ketika itu tidaklah akan mungkin dapat membiayai dirinya. “Antara”-lah satu-satunya sumber segala pemberitaan dari seluruh nusantara dan seluruh dunia ketika itu disamping radio, bagi daerah Sumatera Selatan umumnya yang praktis terputus hubungannya dengan daerah lain (pulau) akibat blokade Belanda di lautan.

Bahwa staf redaksi ini cukup bagus dalam perjuangan nasionalnya sangkin progressifnya dan beraninya mengeluarkan pemberitaan dan artikelnya, sehingga ketika Brigadir Hutchinson yang mewakili balatentera Sekutu berada di Palembang telah 2 kali memanggil pimpinan serta staf redaksi “Obor Rakjat” dan memberikan peringatan kepada atas pemberitaan Obor Rakjat.

Ketika dia (Brigadir Hutchinson yang mewakili balatentera Sekutu berada di Palembang) hendak meninggalkan Palembang, kata-kata perpisahannya merupakan “last warning” atau peringatan terakhir kepada Obor Rakjat yang berbunyi:

Baca Juga  Palembang, Setelah Kejatuhan Sriwijaya

“0.K. Gentlemen, I am leaving Palembang very soon. I warn you. Be careful from now on otherwise you’ll be shot to death by the Dutch”.

(“0.K. Tuan-tuan, saya akan segera meninggalkan Palembang. Saya peringatkan kamu, hati-hati mulai sekarang, kalau tidak, kamu akan ditembak mati oleh Belanda ”)

Namun setelah itu, sesuai dengan tugas perjuangan, Obor Rakjat” tetap berjalan dengan penuh semangat, sehingga buat pihak musuh merupakan momok di siang hari.

Harian 0bor Rakjat” sempat menghadapi suatu malapetaka besar, ketika pada tanggal 1 Januari 1947, pecah pertempuran 5 hari 5 malam antara rakyat melawan tentera Belanda.

Ketika pertempuran berakhir, sebagian dari Kota Palembang menderita kerusakan-kerusakan dan kebakaran-kebakaran, akibat tembakan meriam dan mortir dari Belanda.

Kantor harian Obor Rakjat rusak berantakan, sebagai juga percetakan Negara (Percetakan K.A. Ebeling) ketika itu.

Dengan susah payah dapatlah disusun kembali, sehingga pada pertengahan bulan Januari 1947, Obor Rakjat dapat diterbitkan kembali dengan pimpinan dan pertanggungan jawab seluruhnya dipegang oleh MJ. Sjamsuddin.

Sebagai diketahui, beberapa instansi telah dipindahkan keuluan diantaranya di Lahat yang menjadi ibu kota darurat Keresidenan.

Beberapa rekan dari kalangan pers ada yang turut kesana, dan ditempat inipun mereka tidak diam.

Suasana pendudukan tentera Belanda atas seluruh Kota Palembang ketika itu merupakan ancaman yang besar bagi pers Republik seperti Obor Rakjat.

Justru, surat kabar ini telah mendapat cap dari Belanda sebagai surat kabar “extremist” , dan pimpinan redaksinya sendiri dianggap mereka seorang pembenci Belanda (Belanda hater).

Dengan mendapat cap koran “extremist” yang dipimpin oleh seorang Belanda hater, Obor Rakjat setiap saat menghadapi kesulitan akibat gangguan yang dilakukan oleh anggota MID dan IVG Belanda yang ketika itu dipimpin oleh Kapten De Boer (KL) dan Letnan Katalani (KNIL) yang dikenal jahat.

Ketika naskah perjanjian Linggar Jati ditanda tangani pada bulan Maret 1947, untuk pertama kali Obor Rakjat menghubungi pihak Belanda dengan mengadakan wawancara khusus sekitar kerjasama atas dasar persetujuan Linggar Jati dengan kepala “Tijdelijke Bestuur Dienst” Belanda, Mr. Wijnmalen.

Tetapi setelah perjanjian ini beberapa bulan ditanda tangani , Obor Rakjat pula dituduh Belanda merusak semangat kerjasama Indonesia-Belanda, dengan suatu tulisan yang mengatakan, bahwa Linggar Jati berarti Langgar Jadi.

Ketika terjadi peristiwa “dagorder Jenderal Spoor” yang terkenal pada Juni 1947 (yaitu perintah untuk melakukan penyerbuan ke seluruh daerah Republik), suasana semakin memanas .

Walaupun Belanda membantah dengan keras adanya perintah harian tersebut yang telah dibocorkan oleh Pers Indonesia, tetapi memang kelihatan kesibukan Belanda mempersiapkan penyerbuan ini.

Disamping penggeledahan dimana-mana yang dilakukannya di Kota Palembang, kantor harian Obor Rakjat yang terletak di Jalan Kepandean, pada tanggal 30 Juni 1947 sore digeledah dan banyak arsip yang dibawa oleh MID.

Juga serentak dengan itu, rumah MJ. Sjamsuddin mengalami penggeledahan yang sama dan alasan mereka menggeledah untuk mencari senjata. Juga beberapa surat yang sebenarnya tidak penting, tetapi karena dikira mereka penting sehingga diangkut .

Pada tanggal 19 Juli malam, suasana Palembang memanas yang ditimbulkan akibat buntunya perundingan Indonesia-Belanda mengenai “gendarmerrie “ bersama” atau komponen militer dengan yurisdiksi penegakan hukum sipil bersama mencapai klimaksnya, dan pada tengah malam itu pihak militer Belanda merobek perjanjian Linggar Jati dan melakukan aksi “coup d’etat” didaerah-daerah Indonesia yang didudukinya termasuk Palembang.

Pada malam itu juga kantor harian Obor Rakjat diduduki Belanda dan MJ. Sjamsuddin ditangkap kemudian dimasukkan dalam kamp tawanan dibekas sekolah “Schake1” 15 Ilir , bersama para perwira ALRI dan pemimpin-pemimpin Republik yang berada didaerah kekuasaan mereka.

Sebulan kemudian MJ. Sjamsuddin dikeluarkan dari tawanan, dengan ancaman tidak boleh menulis apapun dalam surat kabar untuk waktu yang tidak ditentukan.
Dibawah ancaman senjata, mereka disuruh menandatangani sebuah naskah perjanjian. Tetapi itu belum cukup, beberapa hari kemudian M.J Sjamsuddin “Dibeslitkan” atau diusir ‘dari daerah pendudukan Belanda bersama-sama pegawai Republik yang menolak berkerjasama dengan Belanda.

Setelah suasana agak reda dan setelah digelar ”ceasefire” atau gencatan senjata, akibat tekanan dari Dewan Keamanan PBB, atas usaha Idrus Nawawi yang tadinya menjadi anggota staf Redaksi Obor Rakjat” sehingga penerbitan Obor Rakjat diteruskan.

Tetapi dengan mengganti nama Harian Obor Rakjat dengan nama lain. karena nama Obor Rakjat dianggap momok oleh Belanda.

Obor Rakjat akhirnya ditukar namanya dengan Harian Umum untuk sementara waktu, hingga kemudian dirubah pula dengan nama menjadi Harian Suara Rakjat. ***

Sumber:
1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
2. Kompasiana, Sejarah Keberadaan dan Peranan Media di Tanah Air, Dodi Prasetya Azhari SH

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here