Home Sejarah Sriwijaya, Bajak Laut dan Suku Laut

Sriwijaya, Bajak Laut dan Suku Laut

0
Suku Laut
Sriwijaya, Bajak Laut dan Suku Laut 1
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

SEBUAH buku berjudul “Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia,” karya Kenneth Hall , Kenneth mengutip informasi dari catatan kuno Arab yang ikut menggambarkan bagaimana cara Sriwijaya mengelola Selat Malaka. Pada pertengahan abad ke-10, tulisnya, Sriwijaya tercatat memungut pajak 20.000 dinar sebelum sebuah kapal dagang Yahudi dapat melanjutkan pelayarannya ke Cina.

Masih dari buku karya Kenneth, disebutkan cuplikan kisah dari ahli geografi dari Arab, Ibnu Rusta. Pada sekitar abad ke-10 Ibnu Rusta melukiskan suatu pulau di Riau (diperkirakan Kepulauan Lingga). “Pemimpinnya mengepalai pasukan Sriwijaya,” demikian catat Ibnu seperti dikutip Kenneth, “Terkenal akan kamper dan kemampuannya untuk melindungi atau mengganggu kapal-kapal yang melintas.”

Antara abad ketujuh hingga ke-11 atau hampir empat abad lamanya, Kerajaan Sriwijaya “mengendalikan” Selat Malaka dan sekitarnya. Mereka menjadi perantara dalam lalu lintas komoditas dari barat dan timur.

Penguasaan Sriwijaya di lautan lantaran menggandeng para nomad (orang laut) serta kelompok-kelompok bajak laut. Oleh Sriwijaya, mereka dijadikan semacam garda depan dalam memantau pelayaran. Beberapa manuskrip kuno yang menyiratkan hal ini.

Seorang komisaris perdagangan Cina bernama Chau Ju-kua menulis Chufanchi (Zhu Fan Zhi—catatan tentang bangsa-bangsa asing/barbar) pada 1225. Terdapat sekelumit indikasi dalam karya Chau yang diterjemahkan oleh Friedrich Hirth dan WW Rockhill pada 1911.

“Apabila sebuah kapal dagang lewat tanpa singgah, kapal-kapal mereka mengejar untuk menyerang dan semuanya berani mati saat melakukannya. Inilah alasan mengapa negeri ini merupakan sebuah pusat perdagangan yang besar,” tulis Chau.

Adrianus Bernard Lapian, dalam bukunya “Bajak Laut, Orang Laut, Raja Laut” (2009) mencatat, Fa-Hsien yang sedang dalam perjalanan pulang dari India (413-414), menyebut perairan di Asia Tenggara dipenuhi oleh bajak laut. Menurut Jiadan (785-805), pangkalan bajak laut berada di sebelah barat-laut Kerajaan Sriwijaya. Sriwijaya dianggap sebagai kerajaan yang memanfaatkan bajak laut untuk menjaga kepentingan dagangnya. Hubungan bajak laut dengan raja-raja lokal biasanya akrab. Bajak laut bisa disulap jadi Angkatan Laut sebuah kerajaan jika ada bagi hasil yang saling menguntungkan antara raja dan kepala bajak laut.

Gangguan bajak laut dari Cina, Sriwijaya dan Tumasik membuat sebagian pedagang dari Asia Barat lebih memilih melewati pesisir barat Sumatera untuk menuju Jawa. Di pesisir barat Sumatera, setidaknya ada beberapa pelabuhan seperti Barus, Padang atau Pariaman.

Menurut AB Lapian, sejak awal abad XIX, pengaruh bajak laut di Indonesia makin berkurang. Para bajak laut banyak diburu oleh pemerintah kolonial. Bajak laut digolongkan sebagai kriminal. Dalam sejarahnya, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang merupakan Tentara Kolonial Hindia Belanda pun pernah dapat tugas menghalau para bajak laut.

Sedangkan Didik Pradjoko, pengajar departemen sejarah FIB UI menjelaskan dinamika perdagangan kerajaan Melayu muncul atas bantuan armada perahu Orang Laut. Pihak kerajaan akan terisolir di pantai dan pelabuhan tanpa bisa bergerak dan beraktivitas tanpa bantuan Orang Laut.

Didik menjelaskan Orang Laut dalam hal ini adalah Orang Melayu yang mendiami pesisir pantai. Hidupnya di atas sampan atau perahu. Mereka hidup nomaden di wilayah Johor, Kepulauan Riau, pantai timur Sumatra, Bangka, Belitung, Kepulauan Natuna, Kepulauan Sulu, Kalimantan Timur, Sulawesi Timur, dan Kepulauan Maluku.

“Pembagiannya meliputi, Kepulauan Mergui, Selat Malaka, Kepulauan Riau hingga Natuna, Orang Bajo di Sulu, Kalimantan Timur, Sulawesi, dan Maluku,” katanya.

Kondisi geografi Indonesia membuat orang Indonesia sejak lama menggunakan laut. Puncaknya sejak 7000 tahun lalu di mana permukaan air laut naik yang membuat kondisi geografi seperti sekarang.

Menurut Didik, beberapa sumber menyebutkan keberadaan Orang Laut sudah muncul antara tahun 500-800 M. Mereka sudah mengenal perdagangan maritim dengan menjual kepada pedagang-pedagang asing berupa tripang, mutiara, kerang, sagu, dan kulit kayu bakau.

Dalam laporannya, Suma Oriental, Tome Pires menjelaskan Orang Laut hidup dari mencari ikan, berburu, dan berdagang. Selain itu, mereka juga berperang membantu pangeran dari Palembang (Parameswara) menyebrang ke Tumasek, Muar dan akhirnya membangun kerajaan di Malaka.

Sementara di Kepulauan Riau, Orang Laut dikenal sebagai orang Suku Laut. Mereka seperti Orang Suku Tambus, Orang Suku Galang, Orang Suku Bulang, Orang Suku Bintan, dan Orang Suku Mepar (Lingga).

“Orang laut dikenal sebagai rakyat laut. Penduduk dari suatu kerajaan, mungkin dulu Kerajaan Riau Johor,” kata Didik.

Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, mereka (Suku Laut) telah dijadikan prajurit laut. Mereka dipimpin oleh seseorang yang bergelar datuk.

“Orang laut dulunya bajak laut. Ketika masa Sriwijaya menjadi prajurit. Harus dirangkul agar mereka kerjasama dengan penguasa Melayu,” ujar Didik lagi. Hingga akhir abad 18 M, Orang Laut masih mengabdi kepada kerajaan-kerajaan Melayu.

Hal senada dikemukakan sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel) yang juga dosen Sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) Drs Syafruddin Yusuf M.Pd, Ph.D melihat dalam struktur dalam Kerajaan Sriwijaya ada kelompok-kelompok bajak laut yang diangkat oleh raja Sriwijaya.

“Jadi bajak laut itu dimasukkan dalam birokrasi, tugasnya utamanya mengamankan jalur pelayaran, kalau tidak masuk kapal-kapal itu dirampok, akhirnya kapal-kapal itu masuk ke Sriwijaya, ini salah satu yang menyebabkan perdagangan bisa berkembang di Sriwijaya, “ katanya.

Namun Syafruddin mengaku ada beberapa defenisi untuk menggambarkan bajak laut ini di Sriwijaya ada yang mengatakan bajak laut ini juga suku laut, tapi kelompok bajak laut inilah menurutnya yang berhasil mengamankan jalur perdagangan Sriwijaya.

Namun arkeolog dari Arkenas Bambang Budi Utomo memiliki pendapat sendiri, menurutnya, mengenai tudingan Kerajaan Sriwijaya adalah bajak laut, menurut Budi, mungkin suku-suku laut yang jika Datu Sriwijaya berkeinginan untuk perang suku-suku laut ini yang dimobilisasi untuk menjadi pasukannya.

“Suku Laut ini membentuk sendiri pasukannya dan memimpin panglimanya diantara mereka, ini sebetulnya pasukan pasukan yang betul-betul sukarelawan, persenjataannya boleh bikin sendiri, makanannya boleh bawa sendiri, panglimanya boleh milik sendiri. Bukan Datu Sriwijaya yang memiliki, Datu Sriwijaya hanya minta bantuan ke suku-suku laut ini,” katanya.

Dan dalam berita-berita Cina, menurut Budi, suku-suku laut ini disebutkan mereka pandai berperang baik di laut dan didarat, hidupnya di perairan dangkal, pada rumah-rumah panggung dan rumah-rumah rakit yang ditambatkan di tepian sungai.

“Itu yang dikatakan bajak laut, padahal mereka bukan bajak laut,” katanya. Namun, sejak keruntuhan Sriwijaya abad 13, bajak laut di Selat Malaka bertindak sendiri-sendiri dan tampaknya semakin mengganas. Palembang terutama Selat Malaka menjadi rawan bagi pelayaran. Hal inilah yang “dibersihkan” oleh armada Cheng Ho (Zheng He) pada abad ke-15. ***

Sumber:
1. https://nationalgeographic.grid.id/read/13286268/tentang-sriwijaya-dan-bajak-laut
2. https://tirto.id/legenda-bajak-laut-berlanjut-btT8
3. http://beritapagi.co.id/2019/09/01/arkeolog-bambang-budi-utomo-luruskan-fakta-salah-tentang-kerajaan-sriwijaya.
4. https://historia.id/kultur/articles/pengabdian-orang-laut-v27mQ

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here