Home Sejarah Terbakarnya Keraton Kuto Gawang (2/Selesai)

Terbakarnya Keraton Kuto Gawang (2/Selesai)

0
Sketsa suasana saat kapal VOC menyerang Benteng Kuto Gawang, 1659
Terbakarnya Keraton Kuto Gawang (2/Selesai) 1
Dudi Oskandar

Oleh Dudi Oskandar
Wartawan dan Pemerhati Sejarah

SISA hari itu mereka habiskan dengan mengapalkan persediaan senjata maupun amunisi yang berhasil didapat sore harinya, delapan pasukan berhasil mendarat di Pulau Cambara untuk menyerang benteng di sana tetapi tempat telah ditinggalkan oleh musuh yang rupanya bermental pengecut , sini mereka menemukan 12 unit meriam yang sebagian sempat dibuang di rawa-rawa tetapi awaknya berhasil menyelamatkan meriam tersebut.

Kemudian mereka membawa meriam-meriam ke kapal dengan sejumlah kecil amunisi. Rupanya kegiatan mereka dipantau dari garnizun di Palembang, dan musuh berhasil membakar kapal Watchman.

Malam harinya, orang-orang yang sempat meninggalkan Benteng Cambara menyerang tiga kali di bawah guyuran hujan lebat demi merebut kembali benteng itu.

Dalam pertempuran tersebut, mereka kehilangan dua orang dan enam orang terluka sehingga kami terpaksa harus bersiaga sepanjang malam.

Lalu mereka menghabiskan waktu selama dua hari, 12 dan 13 November 1659, untuk memasukkan seluruh meriam dan amunisi yang berhasil diambil di ketiga benteng ke kapal.

Dewan perang kemudian memutuskan untuk segera menyerang kampung orang Cina dan menguasai kota sebelum musuh dapat pulih dari ketakutan akibat kehilangan benteng-benteng miliknya.

Ketika melewati kota, mereka menerima sambutan yang sebagaimana yang kami alami di benteng, tetapi mereka tidak mengalami kerusakan atau pun kehilangan salah satu kapal .

Kota Palembang dibentengi oleh batang-batang pohon besar dirapatkan, dan banyak meriam besar ditempatkan di sekitarnya sehingga mustahil kota ini bisa diambilalih hanya dengan menggunakan pasukan kecil, ditambah lagi dengan adanya parit yang dalam dan berlumpur.

Mereka kesulitan mencari tempat mendarat, hingga akhirnya laksamana melihat ada anak sungai di balik titik terjauh benteng pertahanan tersebut.

Anak sungai tersebut mengarah ke tempat yang sangat aman dari tembakan musuh. Mereka mendarat dengan seluruh pasukan. dengan gagah berani dan bergerak kesarang musuh. Mereka melemparkan granat ke arah kota yang kemudian menyebabkan rumah-rumah berdempetan terbakar, musuh menjadi ketakutan dan meninggalkan tempat mereka.

Hal ini dimanfaatkan oleh Laksamana Vander Laen, Mr Truytsman dan Kapten Harman untuk menerobos pertahanan kota lewat tiga jalur berbeda.

Di sana, mereka mendapat perawatan sengit penduduk lokal, yang sesuai dengan tradisi setempat, “amuk”. Menyerang ketiganya dengan gagah berani. Penduduk lokal berhasil membunuh orang pasukan Belanda , di antaranya adalah seorang Letnan, seorang Letnan Muda dan seorang sersan, tapi mereka sendiri tidak mengalami banyak kehilangan.

Hujan deras malam itu memaksa Laksamana Belanda untuk membawa kembali pasukannya kekapal tetapi esok paginya mereka kembali mendarat dan memasuki kota lewat titik yang sama. Beberapa pertempuran yang tanpa hasil terjadi , sampai akhirnya penduduk lokal berhasil dipaksa meninggalkan kota dan mundur ke kampung-kampung.

Benda pertama yang dikorbankan ke kobaran api adalah bangunan istana setelah seluruh isinya dipindahkan keluar terlebih dulu.

Ada pula sejumlah besar artileri yang ditinggalkan oleh raja dan para pengikutnya yang bernyali kecil. sebelumnya mereka sempat memberikan perlawanan dan bertarung satu lawansatu, tetapi setelah Laksamana Vander Laen berhasil membunuh dua pemimpin mereka, atau para Quey Nabey [Kiai Ngabehi], mereka langsung ciut dan lari tunggang langgang demi menyelamatkan diri.

Patut dicatat bahwa orang-orang Hindia ini sangat mendewakan meriam-meriam besar mereka; mereka menemukan bagaimana meriam-meriam gersebut dilapisi kain merah tua dan rambutan, serta diberi wewangian yang menyengat, sampai-sampai wangi tersebut berbekas lama di tangan.

Setelah seluruh meriam dan artileri dibawa keluar dari kota dan benteng, laksamana memerintahkan untuk membumihanguskan benteng- benteng dan rumah-rumah yang bersebelahan dengan benteng.

Kami menemukan 15 dari 21 prajurit yang dijadikan tawanan di penjara yang terletak di kedua sisi istana; mereka dibunuh dengan keji dan tubuh mereka dikoyak-koyak oleh orang-orang barbar itu.

Salah satu dari mereka yang selamat adalah Jacob de Groot, seorang anak muda Belanda yang kebetulan tidak dirantai dan berhasil melarikan diri pada saat yang tepat, sedangkan enam orang lainnya dibawa lari oleh mereka. Sebagai pembalasan atas tindakan kejam tersebut, mereka membumihanguskan seisi kota pada 16 November 1659, setelah sebelumnya membawa meriam dan hasil jarahan ke kapal.

Di waktu yang hampir bersamaan, musuh mengirimkan satu mesin api berukuran sangat besar ke sungai, berupa 20 rumah kayu yang didirikan di atas gelondongan-gelondongan kayu dengan panjang yang hampir memenuhi kedua sisi sungai.

Namun, begitu melihat keberadaan mesin tersehut, Belanda langsung mengirimkan kapal-kapal panjang dengan banyak awak untuk melindungi kapal-kapal kami yang lain.

Setelah berhasil melewati mesin api tersebut, mereka membakar mesin itu dalam jarak pandang musuh, yang kemudian tak hanya membakar habis mesin tersebut melainkan juga rumah-rumah yang terletak di pinggir sungai.

Pada 17 dan 18 November 1659. orang-orang Belanda masih sibuk memuat hasil jarahan, senjata, dan meriam ke kapal, dan pada 23 November 1659 seluruh armada enyelenggarakan pesta syukuran untuk merayakan keberhasilan lni.

Pada 25 November 1659, kapal Belanda terus bergerak ke arah hulu, dan kadang-kadang melihat tiga atau empat perahu angkut untuk keperluan kapal feri serta beberapa rumah yang dibangun di atas gelondongan kayu yang terapung. Perahu-perahu tersebut tidak dapat diambil karena berada diluar jangkauan, apalagi letaknya terlindung.

Di anak sungai dibalik semak-semak, pasukan Belanda membakar rumah-rumah tersebut lalu kembali pada 26 November 1659 kedepan benteng, tempat mereka menaruh jangkar sampai hari berikutnya.

Sementara itu direktur Belanda di Jambi Peter de Goyer mengirimkan kapal Tronk yang berangkat pada l 1 November 1659 dengan membawa 75 ekor ayam jantan. 100 ekor anak ayam betina, 5 ekor kambing. Untuk keperluan Mr. John Vander Laen dan komandan-komandan lainnya.

Hanya itu yang bisa didapatkan karena bahan makanan jumlahnya sangat sedikit pada saat itu. antara disebabkan oleh Pangeran Indragiri dan Raja Muda Johor menetap di lokasi ini sejak tiga bulan yang lalu dengan membawa 2000 orang pengikut.

Beberapa waktu yang lalu pula, banyak sapi dan unggas disembelih untuk kepentingan pesta perkawinan putra sang raja yang menikah dengan Patuan Muda.

Tidak lama kemudian laksamana dan Kapten Truytsman menerima jawaban dari Pengeran Jambi atas surat mereka yang tertanggal 20 November 1659 yang turut melampirkan surat dari Mr. Peter Boyer tertanggal 26 November 1959.

Setelah diterjemahkan dari bahasa Melayu bunyinya adalah sebagai berikut :

“Surat ini dikirimkan dengan tulus, oleh Pengeran Jambi kepada komandan John Vander Lae dan Daman Sittia Bauwa (maksudnya Kapten Truytsman), orang-orang yang terkenal lewat kebijaksanaan dan keberaniannya.

Pangeran sudah mengetahui bahwa Mr. John Maetzuicker, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Timur telah mengirimkan 18 kapal ke Palembang dan merasa perlu untuk menyatakan bahwa beliau menyetujui tindakan Mr. John Maetzuicker, tanpa terkecuali selama Mr John Vander Laen dan Daman Sittia Bauwa memenuhl janji-janji yang sebelumnya diberikan kepada Pangeran.

Sesuai dengan keputusan yang dibuat setelah setelah menerima surat ini. Pangaran telah mengutus Zitta Antacca bersama sejumlah prajurit untuk memerangi penduduk Palembang .

Pangeran juga mengingatkan dan meminta John Vander Lae dan Daman Sittia Bauwa untuk senantiasa berhati-hati, karena pihak Palembang berada sangat dekat. Inilah titah pangeran kepada John Vander Lae dan Danab Sittia Bauwa untuk saat ini.

Pada 27 November 1659. semua rumah yang masih berdiri tegak di sekitar Benteng Mansapoura dibakar berserta banteng itu sediri, atas perintah khusus dari laksamana,”

Kembali Ke Batavia

Pada hari yang sama pula mereka mengangkuti sejumlah besar perlengkapan militer kelunr dari rawa-rawa Pulau Cambara.

Kami sadar bahwa Pangeran Palembang tidak akan mengirimkan perwakilan atau pun memberikan jawaban atas surat kami tertanggal 20 November 1659 entah karena keras kepala atau memang sudah putus asa, sehingga kami memutuskan untuk meninggalkan sungai.

Kami berlayar kembali ke cabang sungai yang disebut Banjarmassum untuk membakar semua rumah dan perkebunan yang kami temui .

Mereka menghabiskan lima haru berlayar, hingga akhirnya tiba di sungai tersebut tanggal 3 Desember 1959. Di mulut sungai kami bertemu dengan kapal orange yang kemudian bergabung dengan mereka.

Mereka melanjutkan perjalanan pada 4 Desember 1659 dan tiba bersama seluruh armada dan pasukan pada sore hari 9 Desember 1659, di jalanan Batavia. Hasil jarahan mencakup 55 unit meriama besar dan 142 unit meriam ukuran kecil.

Beberapa di antaranya terbuat dari besi, mereka tidak menemukan lada di sini, tetapi kami menemukan persediaaan beras dan padi dalam jumlah banyak yang semuanya habis dilalap api berikut banyak kapal kecil diantaranya perahu-perahu rekreasi milik raja. Berikut perahu tersebut dibawa oleh orang-orang kami sebagai kenang-kenangan atas peristiwa itu. ***

Sumber :
1. William Marsden F.R.S, The History Of Sumatera
Containing An Account Of The Government, Law, Custom, And Manners Of The Native Inhabitants, With Description Of The Natural, Production, And A Relationsof The Ancient Political State Of That Island,
Published By T Payne And Son, London 1811
2. Jawad Yuwono (Quora) dan Wikipedia
3. Okezone, 22 September 2009
4. Johan Nieuhof, (1682), Voyages and Travels to the East Indies 1653-1670 , dicetak ulang oleh Singapura: Oxford University Press, 1986 hlm 186-189

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here