Home Sejarah Tingkatkan Kearifan Lokal di Palembang

Tingkatkan Kearifan Lokal di Palembang

0
Suasana forum diskusi terpumpun ”Dialog Kebudayaan Palembang Menuju Kongres Budaya Nasional 2020″, di Basengla Cafe Jalan Dwikora, Sabtu (30/11) Palembang.

PALEMBANG.PE- Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) lV Jayo Wikramo R.M. Fauwaz Diradja, S.H.M.Kn berharap kedepan Palembang, termasuk Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) lebih meningkatkan kearifan lokal. Sehingga generasi muda memiliki basis kearipan lokal atau kemampuan dasar akan budaya lokal, sehingga tidak mudah tergerus oleh kemajuan zaman.

Demikian ditegaskan SMB IV, usai acara forum diskusi terpumpun ”Dialog Kebudayaan Palembang Menuju Kongres Budaya Nasional 2020″, di Basengla Cafe Jalan Dwikora, Sabtu (30/11) Palembang.

“ Sehingga mereka lebih mencintai budaya daerah daripada budaya asing, kalau sekarang 70 persen budaya asing, 30 persen budaya daerah, kedepan kita balik 70 persen budaya daerah, budaya Palembang,” kata SMB IV.

Acara diselenggarakan oleh Komunitas Ngobeng Budaya Palembang, disupport oleh Seniman, Budayawan, Sejarahwan, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Akademis, KPD, LBUM, KOBAR 9, Depart AMPS, Teater Gaung, KKP, AMKPD, PZP, ZBPD, PEDAS, MABMI dan FKPKP.

Pembicara dalam diskusi ini adalah Seniman, Budayawan, Sejarahwan, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Akademis, KPD, LBUM, KOBAR 9, Depart AMPS, Teater Gaung, KKP, AMKPD, PZP, ZBPD, PEDAS, MABMI dan FKPKP, serta anggota DPRD Palembang H Ishak Yasin .

Dengan diskusi ini, menurut SMB IV, menjadi momen untuk saling bahu membahu antara semua organisasi masyarakat dari Kota Palembang untuk meningkatkan kerja sama dibidang budaya, yang sekarang ini tidak terlalu dikedepankan atau malah dikesampingkan oleh baik dari pemerintah atau oleh masyarakat.

“Kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat bahwa kita masih memiliki budaya budaya lama,” katanya. Sultan menilai kearipan lokal sangat, baik untuk perkembangan dan generasi mendatang.

“Supaya cagar budaya kedepannya jangan sampai hilang, bahkan harus kita lestarikan dan kita promosikan menjadi aset wisata yang sangat berharga untuk kemajuan pembangunan Kota Palembang,” katanya.

Sedangkan Ketua Pelaksana Kemas Ari Panji menjelaskan, semua peserta yang diundang dan mampu menyikapi kondisi perkembangan kebudayaan Palembang yang semakin hari semakin tergerus oleh waktu dan budaya asing.

Menurutnya, memahami Palembang sebagai Kota Tua di Indonesia tentulah Palembang memiliki akar sejarah yang kuat. Ada Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan/Kesultanan Palembang, ditambah sejarah dan kebudayaan Palembang dalam penguasaan Kolonial ( Belanda, Inggris, dan Jepang).

“Atas fakta sejarah tersebut diperlukan pemahaman tentang pokok pokok pikiran kebudayaan daerah Palembang yang tertuang dalam 10 OPK ( Objek Pemajuan Kebudayaan) yakni, Tradisi Lisan, Manuskrip, Adat Istiadat, Ritus, Pengetahuan Tradisional, Teknologi Tradisional, Seni, Bahasa, Permainan Rakyat, dan Olahraga Tradisional,” katanya.

Sedangkan Anggota Komunitas Ngobeng Budaya Palembang, Vebri Al Lintani, menambahkan, mengenai diskusi ini kpihaknya pakai 10 OPK (Objek Pemajuan Kebudayaan).

“Kalau dilihat cek satu persatu dari OPK itu, saya kira hampir rata rata dari objek kebudayaan kita mengalami degradasi atau penurunan, Komunitas Bgobeng budaya Palembang kedepan akan membuat gerakan kebudayaan berdasarkan Undang-undang itu, kalau pemerintah misalnya menyerukan untuk membikin pokok pikiran kebudayaan maka kita akan mengawal pokok pikiran kebudayaan di Kota Palembang dan Sumatera Selatan,” kata Vebri

Yang paling penting, menurut Vebri, perlu adanya regulasi untuk itu Karena tanpa adanya regulasi, pembangunan akan tidak terarah. Selama ini, kata dia, pembangunan dilakukan tanpa regulasi akhirnya berdasarkan selera saja.

“Seperti contoh kalau Wali Kotanya senang olahraga, maka olahraga maju. Jika Wali Kotanya senang musik, maka musiknya maju. Padahal kebudayaan bukan hanya musik, tadi ada 10 OPK. 10 OPK ini perintah Undang-undang itu harus diperhatikan, makanya regulasi itu sangat penting didaerah. Karena kita otonomi bagian dari hiraki hukum,” kata mantan Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) ini. RIL

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here