Home Ekonomi Usaha Gapkindo Belum Buahkan Hasil

Usaha Gapkindo Belum Buahkan Hasil

0
SADAP KARET : Seorang petani karet masih melakukan sadap karet ditengah harga karet yang belum kunjung membaik

PALEMBANG, PE- Asosiasi Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel masih berusaha terus mendongkrak harga karet di tingkat petani.

Hal itu dilakukan menyusul masih rendahnya harga jual karet di tingkat petani hingga saat ini sehingga perlu langkah nyata untuk mengatasinya.

Berbagai cara sudah melakukan berbagai cara untuk menaikkan harga karet dipasar Internasional, mulai dari pengaturan jumlah ekspor dan mendesak pemerintah untuk memakai karet dalam negeri untuk beberapa produk yang bahan bakunya berasal dari karet.

“Berbagai upaya sudah kami lakukan untuk menaikkan harga karet hanya saja upaya yang dilakukan selalu terhambat, lantaran harga karet ditingkat petani sangat tergantung pada harga uang terbentuk oleh pasar Internasional ditambah lagi pasokan dan permintaan konsumen,” jelas Alex K Edy, Ketua Gabungan pengusaha Karet (Gapkindo) Sumsel, kemarin.

Saat ini untuk harga yang terjadi menjadi patokan pabrik untuk membeli bahan baku setelah dikonversikan ke rupiah dan dikurangi biaya produksi.

Alex mengilustrasikan untuk harga misalnya 1.32 usd/kg kemudian dikalikankan kurs yang berlaku di hari itu lalu dikurangi biaya produksi Rp2.500=Rp 17.565 perkilo kering. Jadi kalau karet rakyat berkadar misalnya 50%×17.565 = Rp 8.785/ kg.

Harga ini merupakan harga di pabrik dan tentu saja berbeda dengan harga petani yang menjual ke pedagang perantara maka petani hanya akan menerima Rp5.370 per kilogram basah.

“Tentu saja harga ini dirasakan sangat rendah bagi petani, bagaimana petani bisa membiayai hidup mereka bila harga karet tidak mengalami peningkatan,” bebernya.

Alex menambahkan, meskipun ekspor karet Sumsel setiap bulan diekspor hampir 100.000 ton perbulan, namun kondisi ini belum memberikan pengaruh terhadap kenaikan harga karet ditingkat petani.

“Kami minta para petani yang ada di Sumsel, untuk segera menerapkan sistem karet bersih untuk meningkatkan harga jual ditingkat petani. Karena selama ini karet petani di Sumsel memiliki kualitas air dan kotoran yang tinggi sehingga harga jual anjlok,” bebernya.

Sementara itu, harga karet yang dinilai belum membaik juga mempengaruhi pembiayaan di FIF Palembang yang ditahun ini ditargetkan pembiayaan mencapai Rp375 Miliar.

“Harga beberapa komoditi termasuk karet yang belum membaik juga berimbas pada FIF salah satunya pada Non Perfoming Loan (NPL) yang saat ini mencapai dua persen dari target yang seharusnya satu persen,” ujar M Adhi Manager Marketing FIF Group Palembang.

Meskipun begitu pihaknya masih optimis jika pembiayaan di Sumsel masih sesuai target dengan fokus menggarap database yang ada. LA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here