Home Sejarah Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen

Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen

0
Kereta Api di Sumatra Selatan Era Kolonial Belanda
Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen 1
Dudy Oskandar.

Oleh : Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan )

 

ZUID-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) atau Staatstramwegen op Zuid-Sumatra (SZS) adalah divisi dari Staatsspoorwegen yang mengoperasikan kereta api di Sumatra Selatan dan Lampung.

Perusahaan ini mengoperasikan jalur-jalur kereta api untuk mengangkut penumpang, hasil bumi, dan batu bara di wilayah Sumatra Selatan dan Lampung. Saat ini jalur-jalurnya termasuk dalam Divisi Regional III Palembang dan IV Tanjungkarang.

Untuk mendukung pengembangan daerah-daerah terpencil di wilayah Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung, pada tahun 1903 diajukan sebuah konsesi pembangunan jalur kereta api di wilayah tersebut. Proposal konsesi itu diberi judul Rapport der Spoorwegwerken Midden in Zuid Sumatra, diusulkan oleh Ir. K.J.A. Ligtvoet. Konsesi ini mengharuskan keterlibatan Pemerintah Kolonial dalam pengembangannya.

Untuk mewujudkannya, pemerintah Belanda membentuk divisi dari Staatsspoorwegen yang diberi nama Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen.

Jalur pertamanya adalah Pelabuhan Panjang menuju Tanjungkarang (pusat kota Bandar Lampung) pada tanggal 3 Agustus 1914.

Selanjutnya pembangunan diarahkan ke Kota Palembang, dengan dibagi menjadi dua wilayah kerja yaitu Lampung dan Palembang.

Pada tanggal 22 Februari 1927 Palembang dan Bandar Lampung akhirnya bisa terhubung, dengan ditandainya peresmian segmen ke arah Blambangan Umpu oleh Kepala Jawatan SS.

Perpanjang menuju Tanjung Enim juga dibangun untuk pengangkutan batu bara. Segmen pertamanya adalah segmen Prabumulih menuju Gunung Megang yang diresmikan pada tanggal 1 Desember 1916.

Kemudian diresmikan perpanjangannya ke arah Muara Enim pada tanggal 2 April 1917, dan terakhir sampai di Tanjung Enim pada tanggal 1 September 1919.

Selanjutnya, pada awal dekade 1930-an jalur ini diperpanjang hingga Stasiun Lubuklinggau dan diresmikan pada pertengahan tahun 1933.

Belanda pada awalnya tidak begitu tertarik menghubungkan seluruh Sumatra dengan kereta api.

Belanda pun membagi wilayah Sumatra menjadi dua bagian: Pantai Barat dan Pantai Selatan, ditinjau dari budaya, bentang alam, dan komposisi sosial masyarakatnya.

Justru yang mempersatukan seluruh Sumatra adalah Jalan Raya Lintas Sumatra yang digagas pada tahun 1916. Bahkan, dengan adanya hubungan jalan raya ini, praktis pengangkutan hasil-hasil perkebunan di Sumatra terutama kelapa sawit dan karet menjadi semakin lancar dan menyebabkan harga-harganya di pasar melambung.

Selain itu, justru impor mobil pribadi dan truk juga meningkat tajam; tercatat pada tahun 1924–1926 jumlah mobil pribadi yang diimpor naik dari 539 menjadi 3.059 unit. Adapun truk yang diimpor meningkat tajam dari 94 menjadi 1.172 unit.

Kesuksesan yang diraih SS menginspirasi perusahaan ini pernah menyusun masterplan agar seluruh Sumatra terhubung dengan rel kereta api, namun Depresi Besar (zaman malaise) yang terjadi di akhir dekade 1920-an menyebabkan rencana ini gagal.

Rencana masterplan yang terwujud hanyalah segmen Muara Enim–Lahat–Lubuklinggau (mulai dibangun tahun 1927) yang akhirnya selesai pada pertengahan kuartal pertama dekade 1930-an, tepatnya pada tanggal 1 Juni 1933. Pembangunan yang cukup lama dari segmen ini dikarenakan adanya dua terowongan yang beroperasi, yaitu Terowongan Gunung Gajah dan Terowongan Tebing Tinggi, yang membutuhkan waktu dua tahun hingga rampung sepenuhnya pada tahun 1932. Segmen terakhirnya, Muara Saling–Lubuklinggau selesai pada tanggal 1 Juni 1933.

 

Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen 2

Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen 3

Masa Pendudukan Jepang

Selama pendudukan Jepang antara 1942 dan 1945, berbagai jalur kereta api di Jawa dikelola sebagai satu kesatuan. Sistem Sumatera, yang tetap terpisah di bawah kendali cabang lain angkatan bersenjata Jepang .

Selama perang kemerdekaan antara 1945 dan 1949, pejuang kemerdekaan mengambil alih kereta api, menciptakan pendahulu langsung pertama dari PT Kereta Api hari ini, Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (Biro Kereta Api Republik Indonesia), pada tanggal 28 September 1945. Tanggal ini , bukan 1867, dianggap sebagai tanggal kelahiran Kereta Api Indonesia dan diperingati sebagai Hari Kereta Api setiap tahun, karena alasan politik.

Baca Juga  Pasien Positif Corona di Sumsel Jadi 2 Orang

Di sisi lain, Belanda menciptakan sistem rel kombinasi sendiri untuk jalur di wilayah yang diduduki , United Railways Company (Combined Railways).

Pada saat pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia, AS memiliki sebagian besar jalur kereta api di bawah manajemennya, tetapi tidak semua digunakan.

Dengan kemerdekaan penuh Indonesia pada tahun 1949, sistem yang terpisah (kecuali Kereta Api Deli) digabungkan dalam Djawatan Kereta Api .

Sistem kereta api non-negara di Jawa mempertahankan keberadaan kertasnya hingga tahun 1958, ketika semua jalur kereta api di Indonesia dinasionalisasi, termasuk Kereta Api Deli, sehingga menciptakan Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA: Perusahaan Kereta Api Negara) pada 15 September. 1971 Nama PNKA diubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api ( PJKA, sistem kereta api India). Kemudian, pada 2 Januari 1991, PJKA diubah namanya dan statusnya sebagai Perusahaan Umum Kereta Api ( Perumka, Perusahaan Publik Kereta Api Indonesia), dan pada tanggal 1 Juni 1999, perusahaan ini diubah menjadi perusahaan publik , PT Kereta Api (Persero) ( PT KA ). Pada Mei 2010, nama “PT KA” diubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT KAI, Perusahaan Kereta Api Indonesia) hingga hari ini.

Markas besar jaringan kereta api negara, sejak zaman kolonial Belanda, berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Perusahaan kereta api swasta berkantor pusat di tempat lain, di Semarang, Tegal, Surabaya dan Medan.

Pada masa PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), wilayah Divisi Regional III Palembang merupakan wilayah kerja Inspeksi 13 Kertapati yang merupakan bagian dari Eksploitasi Sumatera Selatan (ESS) bersama dengan Inspeksi 14 Tanjungkarang.

Barulah sejak era PERUMKA, Eksploitasi Sumatera Selatan (ESS) berubah nama menjadi Divre III Sumatera Selatan dan Lampung yang dulu cakupannya cukup luas dibandingkan kedua divre lain di Sumatera dan meliputi dua provinsi yaitu Sumatera Selatan dan Lampung, maka dibagilah dua wilayah (subdivre) dengan fungsi operasional yang serupa dengan Daop KAI di pulau Jawa, namun dengan tingkatan administratif dalam lingkup KAI yang lebih rendah daripada Divre maupun Daop. Divre III pernah memiliki dua subdivre sebagai berikut:
• Sub Divre III.1 Kertapati (KPT), yang merupakan pusat Divre III Sumatera Selatan dan Lampung naik tingkat dan berubah nama menjadi Divre III Palembang (PG) per 1 Mei 2016.
• Sub Divre III.2 Tanjungkarang (TNK), dimekarkan menjadi Divre IV Tanjungkarang (TNK) per 1 Mei 2016

Selain itu Stasiun Kertapati (KPT) juga disebut sebagai Stasiun Palembang adalah stasiun kereta api kelas besar yang terletak di Kemas Rindo, Kertapati, Palembang. Stasiun yang terletak pada ketinggian +2 meter ini adalah stasiun kereta api terbesar yang berada dalam pengelolaan PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional III Palembang serta merupakan stasiun terbesar utama Sumatera Selatan.

Stasiun Kertapati berada di atas pertemuan Sungai Ogan dan Musi, dan merupakan salah satu dari dua stasiun kereta api yang bertipe terminus (ujung) di Sumatera Selatan. Jalur kereta api dari stasiun ini seluruhnya merupakan rel berukuran 1.067 mm yang termasuk sempit.

Stasiun ini merupakan tempat pemberhentian utama bagi semua kereta api penumpang baik yang berjalan ke arah Bandar Lampung (Tanjung Karang) maupun ke arah Lubuklinggau. Stasiun ini bertipe terminus, menjadikannya sebagai tujuan akhir bagi semua perjalanan kereta api yang mengarah ke Palembang. Selain itu, stasiun ini merupakan tujuan akhir dari kereta api batu bara Kertapati yang akan membongkar muat batu bara lewat kapal tongkang. ***

Sumber:

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Zuid-Sumatra_Staatsspoorwegen
2. https://nl.qwe.wiki/wiki/History_of_rail_transport_in_Indonesia
3. http://www.globalplanet.news/berita/14079/kereta-api-sumsel-dari-masa-ke-masa

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here